BANTEN — Wajah anak Alyssa Daguise dan Al Ghazali, Baby Soso, tanpa sengaja terekspos ke publik lewat unggahan kanal YouTube Maia Estianty. Alih-alih simpati, kegalauan Alyssa justru menuai kritik warganet yang menilai reaksinya berlebihan. Simak kronologi dan pelajaran soal privasi anak di media sosial.
Nama Baby Soso, sapaan akrab Soleil Zephora Ghazali, kembali jadi perbincangan setelah wajahnya tersorot dalam sebuah video yang diunggah ke kanal YouTube Maia Estianty. Insiden ini memicu reaksi emosional dari sang ibu, Alyssa Daguise, yang merasa privasi anaknya dilanggar.
Respons Alyssa di media sosial menuai beragam tanggapan. Banyak warganet yang awalnya mengira akan memberi dukungan, justru berbalik mengkritik cara Alyssa mengekspresikan kekesalannya.
Wajah Baby Soso disebut pertama kali muncul dalam unggahan kanal YouTube Maia Estianty. Kelalaian teknis saat proses penyuntingan video diduga jadi penyebabnya, sehingga momen yang seharusnya tidak ditampilkan justru ikut terunggah.
Alyssa dan Al Ghazali selama ini memang dikenal sangat menjaga privasi wajah anak mereka. Mereka belum pernah secara sengaja memperlihatkan wajah Baby Soso ke publik sejak kelahirannya.
Usai insiden tersebut, Alyssa meluapkan kegalauannya di media sosial. Ia mengungkapkan kekecewaan karena wajah anaknya kini bisa diakses siapa saja tanpa persetujuannya.
Namun, reaksi itu tidak mendapat simpati seperti yang mungkin diharapkan. Sejumlah warganet menilai respons Alyssa terlalu berlebihan dan terkesan ironis.
"Lebay lo, kalau nggak mau kespill ya jangan dikontenin wkwkwk," sindir seorang warganet di kolom komentar Instagram, seperti dikutip dari berbagai sumber.
Kritik warganet berpusat pada satu hal: selama ini perjalanan kehamilan hingga proses persalinan Alyssa kerap dijadikan materi konten di media sosial. Banyak yang menilai, wajar jika publik kemudian merasa ikut memiliki akses terhadap momen-momen sang anak.
Di sisi lain, ada pula yang memahami posisi Alyssa. Menjaga privasi anak, terutama wajah, adalah hak setiap orang tua, terlepas dari seberapa banyak kehidupan mereka dibagikan ke publik.
Perdebatan ini menyoroti garis tipis antara berbagi momen bahagia dan melindungi anak dari eksposur berlebihan di dunia digital.
Kasus Baby Soso jadi pengingat penting bagi orang tua yang aktif di media sosial. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum membagikan momen anak ke publik.
Jika wajah atau data pribadi anak tersebar tanpa izin, orang tua berhak meminta penghapusan konten tersebut. Di Indonesia, perlindungan data pribadi anak diatur dalam UU Perlindungan Data Pribadi.
Untuk kasus yang lebih serius, seperti penyebaran yang disengaja atau bernuansa merugikan, berkonsultasi dengan ahli hukum bisa jadi langkah yang tepat.
Kasus Baby Soso menunjukkan bahwa menjaga privasi anak di era digital bukan perkara mudah, terutama bagi figur publik. Kritik warganet boleh saja datang, tapi keputusan soal apa yang layak dibagikan tetap ada di tangan orang tua. Yang terpenting, kepentingan dan keamanan anak selalu jadi prioritas utama.