BANTEN — Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah 0,43 persen ke level 6.121 pada perdagangan Selasa (29/9/2026), tertekan dominasi saham yang bergerak turun sepanjang sesi. Sepanjang hari, indeks sempat menyentuh level terendah 6.013 dan tertinggi 6.150, sebelum mengakhiri perdagangan mendekati posisi terendah harian.
Tekanan jual yang berlangsung sejak pembukaan membuat IHSG nyaris menyentuh level 6.000. Volume perdagangan tercatat 38,33 miliar saham dengan nilai transaksi Rp13,23 triliun dan frekuensi sekitar 1,8 juta kali.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 373 saham melemah, 303 saham menguat, dan 118 saham stagnan. Data itu menunjukkan tekanan jual masih mendominasi pasar hingga penutupan.
Tiga sektor mencatat koreksi terdalam pada sesi kali ini:
Koreksi sektor teknologi menjadi yang paling dalam, jauh melampaui dua sektor lainnya. Pelemahan ini memperpanjang tekanan yang sudah berlangsung di kelompok saham berkapitalisasi besar maupun menengah.
Di tengah koreksi tersebut, sejumlah sekuritas tetap merilis daftar saham yang dapat dicermati untuk perdagangan Rabu (30/9/2026). Daftar ini berasal dari analisis masing-masing broker dan bukan jaminan kinerja saham.
BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan VKTR, RATU, dan AMRT. BNI Sekuritas memasukkan CUAN, BUMI, AMMN, DEWA, TPIA, dan INCO ke dalam daftar pantauan.
Phillip Sekuritas menjagokan TINS dan TOTL, sementara MNC Sekuritas mencantumkan BBCA, ICBP, MBMA, dan UNTR. CGS International Sekuritas memasukkan TINS, ANTM, BBRI, MAPA, HRTA, dan SMGR.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan ANTM, BBRI, BMRI, EXCL, TINS, dan MDKA. Mirae Asset Sekuritas menyertakan EMAS, ISAT, dan TPIA dalam daftar saham yang dicermati.
MNC Sekuritas mencermati adanya peluang penguatan jangka pendek menuju area 6.152 hingga 6.196 setelah koreksi pada perdagangan sebelumnya. Sekuritas itu tetap mengingatkan level support dan risiko koreksi lanjutan.
Bagi pelaku pasar, daftar rekomendasi tersebut bisa menjadi bahan awal menilai saham yang sedang menjadi perhatian broker. Keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan profil risiko, kondisi pasar, dan analisis masing-masing investor.
Pergerakan IHSG pada sesi berikutnya akan bergantung pada apakah tekanan jual di sektor teknologi dan properti mereda, serta respons pasar terhadap level support yang saat ini diuji.