BANTEN — Suyudi Ario Seto resmi menjabat Kapolri menggantikan Listyo Sigit Prabowo, dengan serah terima jabatan digelar di Mabes Polri. Sebelum memimpin Korps Bhayangkara, ia menempuh perjalanan panjang dari reserse hingga Kepala BNN. Berikut fakta-fakta menarik tentang sosoknya.
Presiden Prabowo melantik Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri, didampingi Wahyu Hadiningrat sebagai Wakapolri menggantikan Dedi Prasetyo. Karier Suyudi terbangun dari fungsi reserse dan penyidikan, bukan jalur struktural biasa. Sejumlah detail perjalanan hidupnya jarang tersorot publik.
Jauh sebelum mengenakan seragam jenderal, Suyudi muncul sebagai semifinalis Cover Boy Majalah Mode edisi 30 Mei 1988. Namanya tercantum sebagai peserta nomor 22. Saat itu usianya masih sekitar 14–15 tahun.
Ketika masih bertugas di Banten, Suyudi memperlihatkan kemampuan atraksi debus dan aksinya sempat viral. Ia lahir di Pandeglang, wilayah yang lekat dengan tradisi tersebut. Kemampuan ini menjadi salah satu fakta yang paling tidak diketahui publik.
Sebagian besar perjalanan karier Suyudi dibangun dari fungsi reserse dan penyidikan. Ia pernah menjadi Kanit Resmob Polda Metro Jaya, Kasat Reskrim, Kapolres, hingga Dirreskrimum Polda Metro Jaya. Ia juga menempati posisi Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus dan Wakil Direktur Tindak Pidana Siber di Bareskrim.
Saat menjabat Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Suyudi terlibat pengungkapan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan pada 2019. Dua pelaku ditangkap di Cimanggis, Depok. Perkara ini termasuk yang paling sensitif dalam perjalanan kariernya.
Profil karier Suyudi menunjukkan perpindahan menarik lintas bidang: Resmob/Jatanras untuk kejahatan umum, Tipideksus untuk kejahatan ekonomi, dan Tipidsiber untuk kejahatan siber. Pengalaman ini relevan dengan agenda yang ia sampaikan saat uji kelayakan, mencakup judi online, penipuan digital, scientific investigation, dan respons kepolisian berbasis teknologi.
Suyudi dilantik sebagai Kepala BNN pada 25 Agustus 2025 menggantikan Komjen Marthinus Hukom. Pada 1 Oktober 2026, Presiden Prabowo melantiknya sebagai Kapolri. Rentang dari Kapolda Banten, Kepala BNN, hingga Polri 1 hanya sekitar dua tahun.
Di masa kepemimpinannya di BNN, aparat mengungkap kasus penyelundupan sekitar dua ton sabu yang dikaitkan dengan jaringan Golden Triangle. Operasi itu melibatkan kerja sama lintas negara, termasuk otoritas Kamboja. Nilai narkotika yang disebut mencapai sekitar Rp5 triliun.
Pada 31 Januari 2026, Universitas Tarumanagara menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa bidang Ilmu Hukum kepada Suyudi. Orasi ilmiahnya berjudul "Narkoba, Keamanan, dan Masa Depan Indonesia dalam Perspektif Ilmu Hukum." Menurut Untar, penganugerahan itu berkaitan dengan kontribusinya dalam kebijakan dan penegakan hukum serta pemberantasan narkotika.
Suyudi merupakan lulusan Akpol 1994, satu angkatan dengan Komjen Asep Edi Suheri yang kini menjabat Kapolda Metro Jaya. Keduanya kini berada di posisi strategis dalam struktur kepolisian. Satu sebagai Kapolri, satu memimpin Polda Metro Jaya.
Dari cover boy majalah hingga kursi Kapolri, perjalanan Suyudi Ario Seto melewati reserse, BNN, dan sejumlah posisi strategis lain. Latar belakang itu akan mewarnai arah kepemimpinannya di Korps Bhayangkara.