SERANG — Gubernur Lemhannas Tubagus Ace Hasan Syadzily memaparkan hasil pengukuran Indeks Ketahanan Nasional (IKN) Provinsi Banten dalam forum resmi peringatan ulang tahun daerah. Skor 2,90 menempatkan Banten pada kategori cukup tangguh.
Angka itu jadi salah satu sorotan utama Rapat Paripurna Istimewa HUT ke-26 Provinsi Banten. Ace menilai capaian tersebut sebagai modal penting bagi Banten untuk melangkah menuju visi Banten Emas 2045.
"Selamat ulang tahun ke-26 untuk Provinsi Banten. Semoga bertambahnya usia ini berbanding lurus dengan meningkatnya kesejahteraan, kedewasaan politik, dan kemandirian ekonomi di Banten," ujar Ace mengawali sambutannya.
Skor IKN Banten tidak berdiri sendiri. Angka 2,90 dihitung dari delapan gatra yang masing-masing punya bobot berbeda.
Gatra politik menempati posisi tertinggi dengan skor 3,40. Peringkat berikutnya diisi demografi 3,28, ekonomi 2,98, pertahanan dan keamanan 2,78, sosial budaya 2,77, geografi 2,68, ideologi 2,64, dan sumber kekayaan alam 2,62.
"Capaian ini menunjukkan fondasi ketahanan Banten relatif terjaga. Namun, dinamikanya masih memerlukan penguatan. Skor ideologi dan ekonomi tercatat meningkat, sumber kekayaan alam stabil, sedangkan geografi, demografi, politik, sosial budaya, serta pertahanan keamanan mengalami sedikit penurunan," papar Ace.
Dari kacamata geostrategi, Ace menempatkan Banten sebagai salah satu simpul peradaban maritim Nusantara. Sejak era Kesultanan Banten abad ke-16, wilayah ini dikenal sebagai poros perdagangan kosmopolitan dengan akar identitas religius yang kuat.
Secara geografis, Banten menjaga gerbang Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I di Selat Sunda. Jalur itu menjadi urat nadi perdagangan dunia. Banten juga berperan sebagai zona penyangga utama ibu kota sekaligus pusat aglomerasi industri yang menggerakkan ekonomi nasional.
"Jika Banten stabil dan maju, sebagian besar fondasi ketahanan ekonomi dan politik nasional kita akan semakin kokoh. Masyarakat Banten memiliki karakter dasar yang ulet dan tangguh. Karakter inilah yang menjadi basis ketahanan nasional," tegasnya.
Lemhannas mendorong penguatan antargatra sebagai tindak lanjut hasil pengukuran. Modal demografi yang besar perlu dikonversi menjadi sumber daya manusia unggul.
Kekuatan ekonomi dinilai perlu ditingkatkan melalui pemerataan. Sementara geografi dan sumber kekayaan alam wajib dikelola secara berkelanjutan.
"Hasil pengukuran ini harus menjadi early warning system (sistem peringatan dini) serta rujukan dalam penetapan prioritas pembangunan, penganggaran, regulasi, dan pengawasan di DPRD," imbuh Ace.
Gubernur Banten Andra Soni menegaskan peringatan HUT ke-26 mengusung tema "Banten Bergerak, Maju Berdampak". Tema itu jadi motor penggerak jajaran Pemprov Banten merespons persoalan pembangunan secara adaptif dan cepat.
Andra mengingatkan keberhasilan pembangunan tidak boleh diukur hanya dari kuantitas program atau capaian indikator di atas kertas. Pembangunan harus terefleksi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, kemudahan akses layanan dasar, serta pemerataan manfaat di seluruh wilayah Banten.
"Pembangunan bukan semata-mata tentang seberapa banyak program yang kita laksanakan, melainkan tentang seberapa besar manfaat yang dirasakan dan seberapa nyata perubahan yang dihadirkan bagi masyarakat Banten," pungkas Andra Soni.
Ace menutup sambutannya dengan keyakinan bahwa di bawah kepemimpinan Gubernur Andra Soni dan Wakil Gubernur Ahmad Dimyati Natakusumah, Banten dapat mewujudkan cita-cita sebagai daerah yang baldatun tayyibatun wa rabbun gafur.