BANTEN — Meta dan OpenAI memperkenalkan layanan AI agent terbaru mereka, Muse dan Dots, yang mampu menjalankan tugas multi-langkah tanpa perlu diarahkan terus-menerus. Berbeda dari chatbot yang hanya menjawab pertanyaan, AI agent bisa mencari, membandingkan, hingga mengeksekusi tindakan digital atas izin pengguna.
Meta dan OpenAI menjadi dua perusahaan terbesar yang baru-baru ini meluncurkan produk AI agent mereka, masing-masing bernama Muse dan Dots. Langkah keduanya menandai pergeseran dari sekadar model bahasa yang menjawab pertanyaan menjadi sistem yang bisa menyelesaikan rangkaian tugas secara mandiri.
Perbedaan mendasar terletak pada cakupan kerja. Chatbot konvensional berhenti setelah memberikan respons, sedangkan AI agent terus melangkah: mencari data, mengevaluasi opsi, lalu mengeksekusi tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan pengguna.
AI agent adalah sistem kecerdasan buatan yang menerima perintah dari pengguna, lalu menjalankan serangkaian langkah untuk mencapai tujuan tersebut. Sistem ini bekerja sebagai perangkat lunak yang mampu mengeksekusi tugas secara mandiri.
Agent dapat menentukan sendiri langkah apa saja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas. Ia juga bisa memanfaatkan berbagai tools yang tersedia, asalkan pengguna memberikan izin akses yang sesuai.
Contoh sederhananya, ketika diminta mencari tiket penerbangan, AI agent tidak hanya menampilkan informasi jadwal. Ia bisa membandingkan harga dari berbagai maskapai, memilih opsi termurah, dan bila diberi akses, langsung mengisi formulir pemesanan.
Fungsi AI agent sangat bergantung pada kemampuan model dan tools yang diberikan kepadanya. Beberapa tugas yang umumnya bisa ditangani antara lain:
Mencari dan membandingkan informasi, seperti tiket penerbangan atau harga produk dari beberapa penjual. Menyusun rencana perjalanan berdasarkan destinasi dan waktu yang ditentukan pengguna. Mengolah dokumen dengan membaca, menganalisis, lalu merangkum isinya menjadi laporan.
Agent juga dapat menjalankan tugas digital seperti mengisi formulir atau mengoperasikan aplikasi tertentu jika memiliki akses. Dalam satu perintah, ia bisa mengeksekusi beberapa tugas sekaligus dengan menentukan urutan langkah yang diperlukan.
Semua kemampuan tersebut tetap terbatas pada akses dan tools yang diberikan. AI agent tidak bisa melakukan tindakan di luar izin yang sudah disetujui pengguna.
OpenAI menjelaskan AI agent sebagai sistem yang menjalankan tugas secara mandiri dengan bantuan berbagai tools. Alur kerjanya dimulai dari menerima perintah, menjalankan langkah yang dibutuhkan, lalu memberikan hasil akhir.
Agar bisa berfungsi, AI agent memerlukan tiga komponen utama. Pertama, persepsi, yaitu kemampuan mengumpulkan data dari lingkungan atau input pengguna. Kedua, penalaran atau reasoning, yang dipakai untuk menganalisis data, memecahkan masalah, dan menyusun rencana kerja.
Komponen ketiga adalah kemampuan aksi. Di tahap ini, AI agent mengambil tindakan menggunakan berbagai tools atau layanan digital, umumnya melalui API. Ketiga kemampuan tersebut dijalankan secara berurutan untuk menyelesaikan satu tugas utuh.
Chatbot pada dasarnya berfokus memberikan respons terhadap pertanyaan pengguna. AI agent dirancang untuk menjalankan tugas atau mencapai tujuan yang diberikan, bukan sekadar menjawab.
Meski begitu, batas antara keduanya kini semakin kabur. Chatbot modern sudah banyak yang memiliki akses ke tools dan bisa menjalankan tugas tertentu, sehingga perbedaan fungsionalnya tidak lagi sejelas dulu.
AI agent tetap bergantung pada akses dan tools yang tersedia. Sistem ini bukan AI yang bisa melakukan segala sesuatu secara otomatis tanpa batas, melainkan alat yang bekerja dalam koridor izin yang diberikan penggunanya.