BANTEN — Harga emas batangan Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) melemah Rp15.000 menjadi Rp2.565.000 per gram pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Harga pembelian kembali (buyback) oleh Antam terpangkas lebih dalam, turun Rp25.000 menjadi Rp2.366.000 per gram. Penurunan ini mengikuti anjloknya harga emas dunia di pasar spot yang ditutup di US$4.108,8 per troy ons, melemah 1,34% dan menjadi level terendah dalam sebulan terakhir.
Koreksi harga emas batangan Antam tidak lepas dari pelemahan harga emas dunia. Pada perdagangan sebelumnya, harga emas di pasar spot ditutup di US$4.108,8 per troy ons, anjlok 1,34% dan menjadi yang terendah dalam sebulan terakhir.
Selisih penurunan antara harga jual dan buyback membuat spread atau jarak antara harga beli dan harga jual kembali melebar. Buyback Antam turun Rp25.000, sementara harga jual hanya turun Rp15.000.
Bagi investor emas batangan, pelemahan buyback berarti nilai likuiditas aset menurun lebih cepat dibandingkan harga perolehan. Pemegang emas Antam yang ingin merealisasikan keuntungan perlu mencermati selisih ini sebelum memutuskan menjual.
Harga emas dunia yang berada di level terendah dalam sebulan terakhir menjadi pemicu utama koreksi emas Antam. Pergerakan harga emas global biasanya menjadi acuan langsung bagi harga emas batangan dalam negeri.
Penurunan 1,34% di pasar spot menunjukkan tekanan jual yang cukup signifikan. Level US$4.108,8 per troy ons menjadi titik terendah dalam sebulan, memberi sinyal bahwa sentimen pasar terhadap emas sedang dalam fase koreksi.
Koreksi harga emas Antam membuka peluang bagi investor yang ingin menambah posisi di level lebih rendah. Namun, pelemahan buyback yang lebih dalam perlu dipertimbangkan matang, terutama bagi yang berorientasi jangka pendek.
Pelaku usaha perhiasan dan pedagang emas ritel juga perlu menyesuaikan harga jual dan beli mengikuti pergerakan Antam. Penyesuaian ini biasanya dilakukan mengikuti harga acuan Logam Mulia yang dipublikasikan harian.
Pergerakan harga emas ke depan akan bergantung pada dinamika pasar global, termasuk sentimen terhadap dolar AS dan ekspektasi kebijakan suku bunga. Investor disarankan memantau harga emas dunia sebagai indikator awal sebelum bertransaksi.