TANGERANG — Sachrudin menekankan bahwa setiap camat dan lurah wajib mengetahui potensi masalah di wilayahnya, termasuk banjir. Ia menginstruksikan jajaran kewilayahan mengajak warga kerja bakti membersihkan saluran air yang berpotensi menghambat aliran.
Sampah yang menyumbat drainase dinilai memperbesar peluang genangan saat hujan deras. Karena itu, kebersihan lingkungan menjadi bagian dari kesiapsiagaan yang harus dijalankan rutin, bukan hanya saat banjir datang.
Selain membersihkan saluran air, Pemkot Tangerang meminta jajaran memantau kondisi cuaca dan debit Sungai Cisadane. Hujan di wilayah Bogor dan Tangerang disebut sebagai faktor yang perlu diperhatikan dalam kesiapsiagaan menghadapi kenaikan debit sungai.
Pemantauan ini penting karena banjir kiriman dari hulu sering kali datang lebih cepat dari perkiraan. Camat dan lurah diminta tidak menunggu laporan warga untuk bergerak.
Evaluasi bulanan itu juga membahas kerusakan jalan, penerangan jalan umum (PJU), kabel semrawut, penataan parkir di Stasiun Poris, hingga pelayanan kesehatan. Sachrudin menegaskan setiap persoalan yang ditemukan di lapangan harus ditindaklanjuti sesuai kewenangan perangkat daerah masing-masing.
"Semua harus kita lihat dan segera ditindaklanjuti sesuai kewenangannya," ujarnya.
Ia menilai evaluasi tidak cukup hanya mengidentifikasi masalah tanpa memastikan langkah penyelesaiannya. Pemantauan program dan kendala pelayanan masyarakat, termasuk layanan kesehatan di puskesmas, menjadi bagian dari evaluasi tersebut.
Sachrudin meminta setiap masalah yang dibahas dalam rapat kewilayahan memiliki tindak lanjut yang jelas. Menurutnya, hasil evaluasi harus berdampak langsung ke warga.
"Jangan sampai persoalan berhenti di ruang rapat. Setiap masalah harus ada tindak lanjutnya, ada penyelesaiannya, dan yang paling penting, ada manfaat yang dirasakan masyarakat," kata Sachrudin.
Evaluasi Bulanan Kewilayahan ini menjadi forum rutin Pemkot Tangerang untuk memantau pelaksanaan program dan menyerap kendala di tingkat kecamatan dan kelurahan.