BANTEN — PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk (MAHA) menandatangani kontrak jasa transportasi batu bara senilai Rp2,2 triliun dengan PT Ade Putra Tanrajeng, anak usaha PT Kutai Bara Nusantara, pada 6 Oktober 2026. Kontrak berdurasi empat tahun hingga 2030 itu menjadi amunisi baru bagi perseroan yang baru saja mencetak lonjakan laba bersih 1.006 persen di semester I-2026.
JAKARTA — Perusahaan jasa angkutan tambang yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan kode MAHA itu meneken kontrak pada 6 Oktober 2026, dengan masa berlaku hingga 2030. Nilai kesepakatan mencapai Rp2,2 triliun, menjadikannya salah satu kontrak terbesar yang pernah diamankan perseroan.
Kontrak tersebut diteken bersama PT Ade Putra Tanrajeng, yang merupakan anak usaha dari PT Kutai Bara Nusantara. Lingkup pekerjaan mencakup jasa transportasi komoditas batu bara di wilayah operasi mitra.
Kesepakatan baru ini datang saat kinerja keuangan MAHA sedang berada di titik tertinggi. Hingga Juni 2026, perseroan membukukan laba bersih Rp142,13 miliar, melesat 1.006 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp12,89 miliar.
Pendapatan bersih ikut naik 34,1 persen menjadi Rp1,65 triliun dari sebelumnya Rp1,23 triliun. Laba bruto terdongkrak 70 persen menjadi Rp273,4 miliar dengan margin 16,6 persen.
Di level operasional, laba usaha konsolidasian tercatat di kisaran Rp173,5 miliar hingga Rp189,3 miliar, tumbuh hampir 100–147 persen secara tahunan. Kombinasi lonjakan laba dan kontrak jumbo ini memperkuat posisi MAHA di sektor jasa pertambangan nasional.
Direktur Utama MAHA Yenny Hamidah Koean menyebut kontrak ini sebagai bukti kemampuan perseroan di bidang jasa transportasi komoditas pertambangan.
"Kontrak ini merupakan bukti nyata dari kapabilitas kami dalam memberikan jasa transportasi komoditas pertambangan yang handal, efisien, dan berorientasi pada keselamatan," kata Yenny dalam keterbukaan informasi BEI, Kamis (8/10/2026).
Pernyataan itu disampaikan melalui keterbukaan informasi yang dipublikasikan ke publik pada 8 Oktober 2026. Manajemen menilai kontrak empat tahun ini memberi kepastian arus pendapatan jangka panjang.
Dengan durasi kontrak hingga 2030, MAHA memiliki visibilitas pendapatan yang lebih terukur untuk beberapa tahun ke depan. Sektor jasa angkutan batu bara sendiri masih menjadi tulang punggung pendapatan perseroan, seiring permintaan komoditas energi yang bertahan di pasar domestik maupun ekspor.
Bagi investor, kombinasi laba semester I yang melonjak dan kontrak baru senilai Rp2,2 triliun menjadi sinyal positif terhadap prospek kinerja MAHA hingga akhir tahun. Perseroan belum mengungkap target pendapatan spesifik dari kontrak ini, namun manajemen optimistis kontribusinya akan terasa pada laporan keuangan periode berikutnya.
Posisi MAHA di industri jasa pertambangan kini semakin solid. Dengan kapasitas armada dan rekam jejak keselamatan yang menjadi pertimbangan mitra, perseroan berpeluang melanjutkan tren pertumbuhan yang sudah terlihat sejak awal 2026.