Pencarian

Xi Jinping dan Trump Sepakat Kelola Perkembangan AI Bersama

Jumat, 25 September 2026 • 12:07:31 WIB
Xi Jinping dan Trump Sepakat Kelola Perkembangan AI Bersama
Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump bertemu di Gedung Putih dengan AI sebagai salah satu topik utama.

BANTEN — Presiden China Xi Jinping menyatakan China dan Amerika Serikat memikul tanggung jawab bersama mengelola perkembangan kecerdasan buatan, mengingat keduanya pemimpin industri tersebut. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Kamis (24/9), yang menjadikan AI salah satu topik utama pembahasan kedua negara adidaya.

Dalam pertemuan tersebut, Xi menegaskan bahwa kemampuan kedua negara harus diimbangi dengan tanggung jawab memastikan AI berkembang secara aman dan tetap berada di bawah kendali manusia. Ia menyebut pengembangan AI harus mengabdi pada kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar mengejar kemampuan teknologi.

Isi Kesepakatan dan Pernyataan Kedua Pemimpin

Xi menyampaikan pernyataan itu langsung di hadapan Trump. Menurutnya, China dan AS punya posisi unik karena keduanya merupakan pemain utama dalam industri AI global.

"Kita memiliki kemampuan sekaligus tanggung jawab untuk mengembangkan dan mengelola AI demi kebaikan, serta memastikan bahwa pengembangannya selalu berada di bawah kendali manusia dan mengabdi pada kesejahteraan masyarakat," kata Xi, melansir The Hill.

Trump sebelumnya menyinggung bahwa keputusan yang diambil kedua negara di bidang AI saat ini akan berdampak jangka panjang. Ia menyebut kebijakan tersebut bisa menentukan arah perdamaian dan kemakmuran puluhan tahun ke depan.

"Keputusan yang kita ambil di bidang ini sekarang dapat mendorong perdamaian dan kemakmuran hingga berpuluh-puluh tahun ke depan," ujar Trump.

Pandangan Trump soal Regulasi AI di AS

Trump menegaskan bahwa Departemen Kehakiman AS (DOJ) berperan sebagai pagar pengaman atau guardrail bagi perkembangan AI di negaranya. Ia berulang kali menyatakan bahwa satu-satunya batasan pengawasan yang dibutuhkan cukup berasal dari lembaga tersebut.

Pandangan itu bertentangan dengan desakan sejumlah pelaku industri yang meminta aturan perlindungan baru. Perdebatan soal siapa yang berwenang mengawasi AI masih berlangsung di AS hingga pertemuan itu digelar.

Desakan Standar Internasional dari CEO OpenAI dan Anthropic

Seruan pengelolaan AI lintas negara sebelumnya datang dari CEO OpenAI Sam Altman dan CEO Anthropic Dario Amodei. Keduanya berbicara terpisah di hadapan Dewan Keamanan PBB pada Rabu (23/9), sehari sebelum pertemuan Xi dan Trump.

Altman dan Amodei sama-sama memohon agar dunia serius menangani ancaman yang timbul dari kemampuan AI yang meningkat pesat. Menurut Amodei, tanpa pengelolaan serius, AI bisa menjadi risiko bagi seluruh umat manusia.

"Jika tidak (diperlambat), AI bisa menjadi risiko bagi umat manusia secara keseluruhan," kata Amodei, dilansir dari CNN, Kamis (24/9).

Altman mendesak PBB membentuk standar internasional yang mampu mengukur kemampuan AI, menilai risiko, menentukan standar keamanan, dan memastikan manusia tetap memegang kendali. Ia juga menyarankan sistem pelaporan cepat serta saluran komunikasi aman antar pemerintah untuk berbagi informasi soal ancaman yang muncul.

Amodei mengusulkan tiga gagasan kerja sama internasional. Pertama, perjanjian global spesifik seperti larangan penggunaan AI untuk membuat senjata biologis. Kedua, sistem evaluasi agar negara dapat memverifikasi komitmen satu sama lain. Ketiga, standar global umum untuk pengujian AI beserta sistem pemberitahuan insiden keamanan.

"Saya percaya bahwa ini adalah isu keamanan global terpenting yang dihadapi dunia saat ini," ujar Amodei.

Latar Belakang Seruan Perlambatan AI

Pernyataan para pemimpin industri itu muncul setelah berminggu-minggu seruan global untuk memperlambat laju pengembangan AI. Dorongan tersebut menguat setelah sejumlah insiden agen AI bertindak di luar kendali, bahkan dalam beberapa kasus mampu meretas sistem perusahaan lain.

Insiden-insiden itu menjadi pemicu kekhawatiran bahwa pengawasan saat ini belum memadai. Altman dan Amodei menyampaikan kekhawatiran serupa di forum PBB, meski berbicara dalam sesi terpisah.

Pertemuan Xi dan Trump di Gedung Putih menempatkan isu AI sebagai agenda diplomatik, bukan sekadar urusan teknis antarperusahaan. Arah kebijakan dua negara adidaya itu akan menentukan seberapa cepat standar keamanan AI global terbentuk.

Follow www.kabarcilegon.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks