Pencarian

USK Ditantang Ciptakan Nilai Tambah Sumber Daya Aceh, Anggaran Rp900 Miliar Jadi Sorotan

Minggu, 04 Oktober 2026 • 12:05:31 WIB
USK Ditantang Ciptakan Nilai Tambah Sumber Daya Aceh, Anggaran Rp900 Miliar Jadi Sorotan
Ketua MWA USK Safrizal ZA memaparkan lima tantangan USK dalam menciptakan nilai tambah sumber daya Aceh.

BANTEN — Universitas Syiah Kuala (USK) menghadapi lima tantangan besar dalam menciptakan nilai tambah sumber daya Aceh, mulai dari hilirisasi pertanian hingga daya saing global. Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) USK Dr. Safrizal ZA menekankan efisiensi anggaran dan inovasi riset sebagai kunci di era Industri 5.0. Dengan anggaran Rp900 miliar, USK dituntut mampu mendorong lahirnya industri pengolahan yang selama ini absen di Aceh.

Rapat kerja USK mengangkat tema 'Penguatan good university governance, hilirisasi dan inovasi riset berkelanjutan serta peningkatan IKU menuju USK bereputasi global'. Safrizal menyampaikan bahwa anggota MWA memiliki tanggung jawab mengawal kepemimpinan Rektor USK Prof. Dr. Mirza Tabrani. Setiap fakultas diminta bertanggung jawab mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan, dengan evaluasi berbasis skor. Dekan yang gagal mencapai target akan dievaluasi, sementara yang berhasil mendapat apresiasi.

Lima Tantangan yang Harus Dijawab USK

Dalam paparannya, Safrizal merinci lima tantangan utama yang dihadapi USK. Pertama, menciptakan nilai tambah untuk komoditas pertanian yang dihasilkan Aceh Tengah, daerah yang dikenal sebagai sentra pertanian di Aceh.

Kedua, penguasaan teknologi. USK harus mampu menjadi kreator teknologi untuk menciptakan penghasilan yang nantinya dapat dijadikan modal melakukan berbagai inovasi. Ketiga, USK dituntut melahirkan banyak riset berkualitas.

Keempat, mendorong talenta-talenta di USK menjadi sesuatu yang memiliki nilai besar bagi dunia ilmu pengetahuan dan kebutuhan industri. Kelima, dalam menghadapi kompetisi global, USK harus mampu mengubah sumber daya menjadi keunggulan.

Anggaran Rp900 Miliar dan Tuntutan Efisiensi

Dengan anggaran yang hanya Rp900 miliar, USK memikul tanggung jawab besar. Efisiensi wajib diterapkan dan inovasi harus dilahirkan. Dunia saat ini berada dalam masa transisi menuju era Industri 5.0 dengan tiga pilar utama: human centric, sustainability, dan resilience.

"USK sering kita sebut besar. Kita harus bertanggung jawab atas nama besar itu. Aceh kaya tapi tak memiliki industri yang memadai untuk mengolah sumber daya Aceh mendapatkan nilai tambah. USK harus mampu mendorong lahirnya industri yang menciptakan nilai tambah," kata Safrizal.

Bibit Unggul dan Ketergantungan Impor

Safrizal juga berpesan agar USK mampu menciptakan bibit-bibit unggul bidang pertanian karena Aceh dikenal dengan sektor pertaniannya. Selama ini, kata dia, Indonesia masih mengimpor berbagai kebutuhan pangan.

"Kita selama ini impor semua kebutuhan. Kita hanya surplus padi sebelum bencana. Kampus harus mampu menciptakan benih dan bibit unggul untuk sektor pertanian. Supaya uang Aceh tidak semakin banyak mengalir ke luar," pungkasnya.

Pesan ini menyoroti persoalan struktural Aceh: kaya sumber daya alam, tetapi minim industri pengolahan. Jika USK mampu menjawab lima tantangan tersebut, perguruan tinggi ini tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga mendorong lahirnya industri yang menahan nilai tambah di dalam daerah.

Follow www.kabarcilegon.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: medcom.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks