BANTEN — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia mengawali perdagangan dengan penguatan 20,27 poin atau 0,33 persen ke level 6.139,13. Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai penguatan masih berpeluang berlanjut dengan menguji rentang 6.150-6.200. Sentimen penurunan harga minyak mentah global dan ekspektasi The Fed menahan suku bunga turut menopang pasar.
Penguatan IHSG pada pembukaan perdagangan sejalan dengan pergerakan kelompok 45 saham unggulan. Indeks LQ45 naik 2,23 poin atau 0,37 persen ke posisi 605,46, menandakan minat beli menyebar ke saham-saham berkapitalisasi besar.
Ratna Lim dari Phintraco Sekuritas memperkirakan tren positif masih berlanjut pada sesi berikutnya.
"Penguatan IHSG berpotensi berlanjut dengan menguji level 6.150-6.200," ujar Ratna, dikutip dari Antara.
Harga Minyak Turun Jadi Sentimen Positif
Harga minyak mentah global turun sekitar 1,9 persen ke level 100 dollar AS per barel pada Senin (5/10/2026). Pelemahan ini dipicu pemulihan ekspor minyak mentah di Timur Tengah dan langkah negara-negara G7 untuk meredakan kekhawatiran pasokan.
Penurunan harga minyak memberi ruang bagi pasar saham domestik, terutama karena mengurangi tekanan inflasi global. Investor juga mencermati perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk serangan balik pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi untuk merebut kembali wilayah sekitar Selat Bab el-Mandeb dari kelompok Houthi yang didukung Iran.
Ekspektasi The Fed Tahan Suku Bunga Menguat
Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang melemah mengurangi tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Funds Rate (FFR) dipertahankan pada pertemuan Oktober 2026.
Pelaku pasar pekan ini akan mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026. Risalah tersebut dinilai penting untuk membaca arah kebijakan The Fed dan kemungkinan perubahan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Risiko Biaya Pinjaman Global Masih Membayangi
Meski sentimen jangka pendek positif, biaya pinjaman global masih menjadi salah satu risiko bagi pasar saham. Investor perlu mencermati perkembangan kebijakan moneter AS dan dampaknya terhadap aliran modal asing ke pasar emerging market, termasuk Indonesia.
Penguatan IHSG hari ini menjadi sinyal awal bahwa pasar masih memiliki ruang untuk bergerak naik, dengan level 6.200 sebagai target terdekat yang dibidik analis.