BANTEN — Tekanan politik terhadap pemerintahan Trump semakin memuncak menjelang pemilu paruh waktu November mendatang. Lonjakan harga bensin yang telah naik lebih dari 37 persen sejak perang pecah pada akhir Februari menjadi beban berat bagi konsumen AS, sekaligus mendorong laba fantastis bagi raksasa energi seperti ExxonMobil dan Chevron.
Kritik tajam disampaikan Trump langsung kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin (3/8). "Saya tidak suka itu. Mereka menghasilkan terlalu banyak uang. Karena adanya kelangkaan pasokan, mereka memperoleh keuntungan yang terlalu besar," ujarnya.
Laporan keuangan kuartal II yang dirilis Jumat lalu menjadi pemicu kemarahan Trump. ExxonMobil mencatat laba bersih 14,5 miliar dollar AS, melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Chevron bahkan lebih ekstrem, membukukan laba 12,1 miliar dollar AS atau naik lebih dari lima kali lipat.
Keuntungan ini didorong langsung oleh gangguan arus pelayaran di Selat Hormuz, jalur distribusi minyak utama dunia. Serangan balasan Iran terhadap kepentingan AS dan sekutunya di kawasan Teluk membuat harga energi global meroket, dan perusahaan minyak menjadi penerima manfaat terbesar.
Meski selama ini dikenal sebagai pendukung industri bahan bakar fosil, Trump mengaku tidak puas melihat disparitas antara keuntungan korporasi dan beban masyarakat. "Saya tidak senang dengan hal itu. Mereka seharusnya mengembalikan sebagian keuntungan itu kepada masyarakat dan menurunkan harga eceran bagi konsumen," tegasnya.
Ini bukan pertama kalinya pemerintahan Trump bergerak menekan industri minyak. Pada Juni lalu, Departemen Kehakiman AS telah diinstruksikan untuk menyelidiki dugaan praktik penipuan di sektor tersebut yang diduga berkontribusi pada tingginya harga bahan bakar domestik.
Bagi Partai Republik, situasi ini menjadi ujian berat. Upaya mempertahankan dominasi di Kongres terancam oleh meningkatnya beban biaya hidup masyarakat, dengan harga bensin sebagai simbol paling kasat mata dari tekanan ekonomi tersebut.
Belum ada respons resmi dari ExxonMobil maupun Chevron atas pernyataan Trump. Namun yang jelas, konflik berkepanjangan di Timur Tengah telah menciptakan dilema kebijakan: pemerintah ingin harga energi turun, sementara perusahaan minyak menikmati momentum keuntungan terbesar mereka dalam bertahun-tahun.