LEBAK — Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten memperkuat program budidaya ikan tematik sebagai upaya meningkatkan produksi perikanan, sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah. Program ini diharapkan mampu memenuhi ketersediaan protein hewani masyarakat, termasuk untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lebak Winda Triana di Lebak, Kamis, mengatakan pemerintah daerah berkomitmen meningkatkan produksi ikan. Selama ini, ketersediaan ikan air tawar di wilayah tersebut masih dipasok dari luar daerah.
"Kami meyakini sistem program budidaya ikan tematik dapat membangun ekosistem ekonomi desa, sehingga hasil produksi perikanan bisa memenuhi permintaan pasar," kata Winda.
Program budidaya ikan tematik ini menggunakan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS), sebuah sistem yang memerlukan pasokan listrik memadai. Winda menuturkan, kegiatan budidaya ikan darat tematik di Kabupaten Lebak belum banyak diterapkan karena keterbatasan infrastruktur tersebut.
"Sebagian besar pembudidaya ikan air tawar di daerah ini masih konvensional," jelasnya.
Oleh karena itu, pihaknya memperkuat kelembagaan pengelola budidaya ikan sistem RAS agar pelaksanaannya tidak gagal di lapangan.
Sebanyak 60 desa di Kabupaten Lebak telah mendaftar menjadi program budidaya ikan tematik sistem RAS. Namun, desa yang terverifikasi baru setengahnya karena persyaratan administrasi yang harus dipenuhi belum lengkap semua.
Desa yang lolos verifikasi akan mengembangkan dua jenis ikan air tawar, yaitu lele dengan masa panen sekitar 40 hari dan nila yang dipanen dalam tiga bulan.
Pembudidaya ikan tematik yang dikelola desa bisa melibatkan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan). Mereka akan mendapatkan pelatihan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta pendampingan dari Dinas Perikanan setempat.
Program budidaya ikan tematik merupakan bagian dari strategi KKP dalam mengembangkan perikanan budidaya berbasis kawasan yang produktif, efisien, dan berkelanjutan. Program ini juga mendorong terbentuknya rantai usaha perikanan yang terintegrasi mulai dari produksi, pemasaran, hingga pemanfaatan hasil budidaya.
Pengembangan budidaya ikan ini terintegrasi dengan ekosistem ekonomi desa dan dipastikan mampu memenuhi konsumsi domestik atau swasembada protein ikan serta kebutuhan MBG. Ikan memiliki kandungan gizi cukup besar, menyumbangkan protein, omega tiga, dan gizi yang dapat meningkatkan kecerdasan otak manusia.