BANTEN — Inovasi material bangunan dari serat kelapa itu dinilai punya peluang besar untuk diimplementasikan dalam skala massal, khususnya untuk kebutuhan perumahan rakyat. Gagasan ini mengemuka di tengah dorongan pemerintah mencari alternatif bahan bangunan yang lebih sehat dan ekonomis dibandingkan seng yang selama ini dominan digunakan masyarakat.
Hasan menjelaskan, ketertarikan Prabowo terhadap produk riset tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa kesempatan, Presiden secara spesifik menyoroti ketangguhan material ini yang diuji secara langsung.
"Tadi yang paling di-highlight oleh Presiden Prabowo adalah hasil inovasi dari BRIN, genteng dari sabut kelapa yang daya tahannya luar biasa, biayanya murah, ringan, tetapi dibanting-banting dan diinjak-injak tidak pecah," kata Hasan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 6 Agustus.
Keinginan untuk mengganti seng bukan sekadar soal estetika bangunan. Menurut Hasan, terdapat pertimbangan mendasar terkait dampak seng terhadap kesehatan penghuni rumah yang menjadi perhatian serius pemerintah.
"Itu bisa menjadi inovasi ke depan untuk rumah-rumah. Presiden ingin mengganti seng karena selain tidak sehat, dari sisi keindahan juga sangat tidak indah," ujarnya.
Dibandingkan seng, genteng sabut kelapa disebut menawarkan solusi yang lebih ringan dan murah, namun tidak mengorbankan aspek ketahanan. "Kalau diganti dengan genteng yang berasal dari sabut kelapa, itu luar biasa sekali. Itu yang di-highlight beberapa kali oleh Presiden," katanya menambahkan.
Meski optimistis, Hasan belum membeberkan secara rinci skema produksi, lokasi prioritas penggunaan, maupun jadwal pasti peluncurannya. Ia hanya menegaskan bahwa teknologi ini dinilai sudah matang untuk diterapkan di lapangan.
"Ini bisa diimplementasikan segera," ujar Hasan.
Pernyataan ini membuka ruang bagi publik untuk menantikan langkah lanjutan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) atau instansi terkait lainnya dalam menyusun regulasi teknis dan standar material. Jika terealisasi, adopsi genteng sabut kelapa berpotensi menurunkan biaya pembangunan rumah sederhana sekaligus mendorong ekonomi sirkuler berbasis komoditas perkebunan dalam negeri.
Langkah ini juga sejalan dengan program prioritas pemerintah di sektor perumahan yang tengah gencar membangun hunian layak huni. Penggunaan material lokal yang melimpah seperti sabut kelapa dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku konstruksi serta menekan biaya logistik.
BRIN sebagai lembaga riset pemerintah diharapkan segera melakukan diseminasi teknologi dan pendampingan kepada industri kecil menengah (IKM) agar produksi genteng inovatif ini bisa menjangkau pasar secara luas dan merata hingga ke daerah-daerah.