BANTEN — Detroit, AS — General Motors mengumumkan perpanjangan kontrak joint venture dengan SAIC Motor untuk periode 20 tahun, memperkuat posisi pabrikan asal Amerika itu di pasar otomotif China. Kesepakatan ini berlaku hingga 2047 dan mencakup rencana ekspor kendaraan ke sejumlah pasar internasional, termasuk Timur Tengah, Afrika, Amerika Selatan, Meksiko, dan Asia-Pasifik.
SAIC-GM, perusahaan patungan yang berbasis di Shanghai dan berdiri sejak 1997, telah memproduksi dan mengirimkan lebih dari 20 juta unit kendaraan. Dalam perjanjian baru ini, perusahaan menargetkan peluncuran sedikitnya 30 model kendaraan energi baru—mencakup EV dan hybrid—sebelum 2030.
Buick Electra E7 Jadi Model Ekspor Perdana ke Pasar Global
Langkah pertama ekspor akan dimulai Oktober mendatang. Buick Electra E7 ditunjuk sebagai model premium pertama dari SAIC-GM yang dikirim ke luar China. Model ini menjadi ujung tombak strategi perusahaan untuk memperkuat posisi merek Buick dan Cadillac di pasar domestik China sekaligus merambah pasar ekspor.
"Kami berkomitmen untuk tampil kuat di pasar China dan melihat peluang signifikan untuk bersaing di pasar internasional tertentu: Timur Tengah, Afrika, Amerika Selatan, Meksiko, dan Asia-Pasifik," ujar John Roth, senior vice president GM sekaligus presiden GM China.
Keputusan di Tengah Tekanan Pemerintah AS terhadap China
Langkah GM ini berbanding terbalik dengan kebijakan pemerintah AS yang gencar memutus keterikatan ekonomi dengan China. Washington baru saja menerapkan larangan ekspor untuk tungsten scrap dan material baterai daur ulang—dikenal sebagai "black mass"—mulai akhir bulan ini. Kebijakan itu diambil berdasarkan Defense Production Act era Perang Dingin untuk mengamankan pasokan mineral kritis dalam negeri.
Departemen Perdagangan AS menyatakan bahwa pasokan material kritis yang tidak memadai meningkatkan risiko terhadap pertahanan dan keamanan nasional. Black mass, yang merupakan serpihan logam dari baterai lithium-ion bekas, menjadi sumber alternatif litium, kobalt, dan nikel yang kian penting. Sementara tungsten digunakan luas mulai dari perlengkapan militer hingga perkakas presisi di pabrik otomotif.
Kontras dengan Strategi Honda dan Subaru
Keputusan GM untuk bertahan di China hadir di saat pabrikan Jepang justru menunjukkan kinerja finansial yang beragam. Honda membukukan kenaikan laba kuartalan pertama dalam enam kuartal terakhir, didorong pelemahan yen dan tidak adanya beban tarif AS yang tahun lalu membebani pendapatan. Pabrikan Jepang itu menaikkan proyeksi laba operasional tahun penuh sebesar 30 persen menjadi 650 miliar yen atau sekitar 4,1 miliar dolar AS.
Kenaikan estimasi tersebut lebih disebabkan oleh asumsi nilai tukar yang di