BANTEN — Proyek hulu migas di lepas pantai Jawa Timur ini tidak hanya bergulat dengan persoalan teknis bawah laut. Aspek non-teknis, terutama relasi dengan masyarakat pesisir, menjadi pekerjaan rumah yang tak kalah penting. Djoko Siswanto menyatakan progres pembangunan lapangan Hidayah berjalan beriringan antara pengerjaan fasilitas produksi dan penyelesaian pembayaran kompensasi bagi nelayan yang wilayah tangkapnya terkena dampak kegiatan pengeboran.
Kompensasi Jadi Titik Krusial
Kehadiran anjungan dan aktivitas kapal di Selat Madura kerap mengganggu area tangkap tradisional. Untuk itu, SKK Migas memastikan Petronas selaku kontraktor kontrak kerja sama (KKS) telah memenuhi kewajibannya membayar ganti rugi. Djoko menekankan bahwa penyelesaian ihwal ini bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi agar operasi berjalan tanpa hambatan sosial.
“Kami berharap dengan selesainya masalah kompensasi ini, dukungan masyarakat semakin kuat,” ujar Djoko dalam keterangan yang dikutip Senin (10/8/2026). Pernyataan ini mengindikasikan bahwa dialog dengan perwakilan nelayan telah mencapai titik temu, meski ia tidak merinci total nominal dana yang telah disalurkan.
Langkah ini dinilai penting karena proyek serupa di Indonesia kerap molor bukan karena teknologi, melainkan karena sengketa lahan atau kompensasi yang berlarut. Dengan adanya kepastian hukum dan sosial, jadwal produksi yang sudah diumumkan bisa lebih kredibel di mata investor.
Pasokan Baru untuk Industri Nasional
Lapangan Hidayah merupakan bagian dari upaya pemerintah menambah pasokan gas di tengah menurunnya produksi sumur-sumur tua. Berlokasi di perairan Madura, lapangan ini dikembangkan Petronas melalui mekanisme bagi hasil dengan pemerintah. Ketika beroperasi pada Q1 2027, gas yang dihasilkan diharapkan mengalir ke pembeli industri maupun pembangkit listrik di Jawa Timur.
SKK Migas selama ini gencar mendorong percepatan proyek-proyek yang sudah masuk dalam rencana pengembangan (Plan of Development). Hidayah menjadi salah satu andalan untuk menjaga lifting gas nasional tetap stabil. Jika target ini tercapai, kontribusi Petronas di Indonesia akan semakin signifikan, memperkuat posisinya sebagai salah satu investor hulu migas terbesar di tanah air.
Konteks Industri Hulu Migas
Keberhasilan proyek ini juga menjadi ujian bagi iklim investasi sektor migas Indonesia. Pemerintah tengah berupaya menarik minat investor asing dengan berbagai insentif, namun penyelesaian isu sosial kerap menjadi penentu keputusan final. Kejelasan status lapangan Hidayah memberikan sinyal positif bahwa konsorsium asing tetap bisa bekerja di wilayah padat penduduk selama ada pendekatan yang partisipatif.
Dengan target produksi yang kian dekat, seluruh mata kini tertuju pada eksekusi di lapangan. Bagi nelayan setempat, uang ganti rugi yang cair menjadi angin segar. Bagi industri, ini adalah kepastian pasokan. Bagi Petronas, ini adalah komitmen jangka panjang yang dipertaruhkan di perairan timur Pulau Jawa.